This page looks best with JavaScript enabled

Kenapa Pindah ke Static Site?

 ·   ·  ☕ 3 min read  ·  ✍️ Ari Kurniawan

Ini adalah cerita singkat saya sebagai blogger (kalau boleh nyebut diri gitu) dan kenapa akhirnya pindah ke static site di tahun 2020.

Pertama kali mengenal blogging di tahun 2007, awalnya memakai platform blogger.com. Gratis - Tutorial dan kustomisasinya banyak. Tapi semangat saya menulis selalu naik-turun karena masih berstatus pelajar juga.

Tapi, setelah hampir 7 tahun pakai platform yang sama terus, akhirnya pindah ke WordPress sekitar tahun 2014 lalu. Alasannya? WordPress menawarkan lebih banyak hal, sebuah tempat baru untuk dieksplorasi.

WordPress yang merupakan platform yang sangat populer juga pelan-pelan menjadi awal saya mengerjakan banyak project-project lain, entah itu dibayar maupun project website sukarela.

Sebenarnya sih, WordPress itu masih asik banget dipakai untuk blogging. Apalagi WordPress 5.4 yang Gutenberg-nya udah mulai nyaman banget dipakai nulis. Tapi, pakai WordPress selama 6 tahun juga ngasi banyak pengalaman gak menyenangkan, mulai dari website yang lambat, biaya maintenance yang lumayan dan scale-up nya kurang ekonomis sampe berurusan sama hacker.

Setelah cukup lama berunding dengan diri sendiri, pada Maret 2020 akhirnya saya memutuskan untuk pindah ke static site dan pilihan saya jatuh pada Hugo sebagai static site generator-nya.

Dibawah ini saya tulis beberapa alasan kenapa saya akhirnya pindah dari WordPress ke Static Site (Hugo):

Static site Hugo

WordPress itu lambat

WordPress itu termasuk dalam dynamic site yang pada dasarnya memang sekitar 10x lebih lambat dari static site. Untuk membuat WordPress tampil lebih kece, tidak jarang saya menambahkan theme, plugin dan script lain yang membuat loadingnya malah makin lambat.

Setelah lama merenung, saya sadar bahwa pada fase ini, tidak perlu lagi tampilan yang fancy~ atau berbagai fungsi sampingan. Saya cuma perlu sebuah website yang cepat yang bisa menjadi tempat saya menyalurkan ide, menulis dan orang bisa nyaman membaca.

Jadi, daripada terus-terusan berurusan dengan WordPress yang lambat, saya pindah ke static site yang bisa memberi pengalaman yang lebih baik bagi saya dan juga pembaca.

Biar Lebih Fokus

Saat menulis tulisan ini, saya masih dalam proses setup untuk static site baru ini. Masih banyak yang perlu diperbaiki dan ditambahkan, bahkan sistem komentar saja belum. Tapi, begitu semua sudah settle, saya bisa fokus pada konten saja.

Tidak ada lagi pemberitahuan “Unexisted User Try to Login” atau “Error Establishing Database Connection”. Saya bisa fokus pada apa yang benar-benar saya sukai: nulis. Yay!

Bosan

Saya memang belum pada level “Developer” dalam WordPress, tidak pernah membuat plugin apalagi theme sendiri.

Tapi, saya sudah hafal tahapan setup sebuah WordPress tanpa perlu melihat tutorial lagi dan secara naluri biasanya sudah paham struktur dari sebuah theme. Bukan sombong, tapi itulah yang biasanya terjadi ketika kita berhubungan dengan sesuatu yang sama dalam periode waktu yang lama.

Static site memberi tantangan baru pada saya, terlihat sederhana jika dilihat sekilas karena menggunakan bahasa program tingkat atas seperti Golang (untuk Hugo) tapi ternyata sistem dibaliknya tidak sesederhana itu. Saya yang sering cuma mendapat nilai C di mata kuliah programming rasanya tertantang lagi.

Itu saja sih sebenarnya alasan saya pindah dari WordPress ke static site / Hugo.

Share on

Ari Kurniawan
WRITTEN BY
Ari Kurniawan
Blogger