This page looks best with JavaScript enabled

Emailmu Membosankan? Cobain Morning Brew!

 ·   ·  ☕ 3 min read  ·  ✍️ Ari Kurniawan

Morning Brew adalah email newsletter harian. . .

Eits… Tunggu, tunggu, sebelum kalian menutup tab browser karena membaca kalimat diatas.

Ini bukan artikel berbayar dari Morning Brew *tapi kalau ada orang Morning Brew yang baca dan mau sponsorin, boleh kok :). Ini adalah CERITA SUKSES dari Morning Brew, sebuah startup yang ‘masih’ tumbuh sehat dan bahkan sudah profit sejak awal.

Dua faktor yang harus kita ingat bersama adalah:

  • Email belum mati. Yang mati adalah email sampah, sementara email dengan konten berkualitas masih terus memiliki peminat.
  • Teknologi email sudah berkembang sangat pesat dalam 10 tahun terakhir. Email hari ini bisa dibuat sangat menarik dan interatif.

Cerita Awal Morning Brew

Alex and Austin

Alex Lieberman (kiri) dan Austin Reif (kanan)

Tahun 2013, Alex Lieberman adalah mahasiswa akhir di University of Michigan dan sudah mendapat pekerjaan di Morgan Stanley saat memulai The Market Corner.

The Market Corner adalah newsletter yang merangkum berbagai berita bisnis penting dan aktual, juga berisi pergerakan harga saham dan upcoming event seputar bisnis.

Lieberman melakukan ini untuk membantu teman-teman di kampusnya mendapat berita bisnis yang sudah dikurasi, juga untuk mengisi waktu luang sembari menunggu kelulusan.

The Market Corner ternyata menarik perhatian Austin Reif, teman satu jurusan dari Lieberman. Namun, saat itu, Reif masih berada di tahun ketiganya di universitas sementara Lieberman sudah lulus.

Akhirnya, setelah dua tahun berlalu, Lieberman dan Reif meluncurkan Morning Brew di tahun 2015. Lieberman bahkan keluar dari pekerjaannya di Morgan Stanley untuk fokus pada perusahaan barunya.

Bootstrap Sejak Awal

Tampilan Morning Brew 2017

Menjelang akhir 2017, Lieberman dan Reif berhasil meyakinkan teman dan keluarga untuk menjadi investor dan mengumpulkan dana mencapai $750,000 atau sekitar 10 Milyar Rupiah.

Dengan tambahan dana ini, Morning Brew berhasil mencapai 125.000 subscriber di awal 2018 lalu. Selama setahun, Morning Brew tumbuh dengan rata-rata 120.000 subscriber baru per bulannya dan berhasil mencatatkan 1 juta subscriber pada Februari 2019 lalu.

Mereka memiliki target akan memiliki dua juta subscriber sebelum kuater kedua 2020.

Diatas Rata-Rata

Tampilan email newsletter Morning Brew

Menurut data dari CampaignMonitor, open-rate rata-rata dari sebuah email marketing adalah 15-25%. Tapi, Morning Brew berada diatas rata-rata dengan angka mencapai 45%.

Artinya? Dari satu juta subscriber newsletter ini, lebih dari 450.000 orang membuka email dari Morning Brew setiap hari, 6 hari seminggu!

Angka ini tentu sangat menarik bagi para pengiklan. Apalagi, Morning Brew menggunakan model bisnis CPV (Cost-per-View) dimana pengiklan hanya membayar ketika email dibuka/iklan dilihat oleh penerima email.

Open-rate yang tinggi dan model bisnis yang transparan menjadikan Morning Brew diatas rata-rata. Tidak heran jika 2018 lalu, 97 pengiklan mengantri untuk masuk ke newsletter mereka. Angka ini tumbuh dua kali lipat di 2019.

Tahun 2018, Morning Brew sudah mencatatkan pendapatkan $3,000,000 (sekitar 41 Milyar Rupiah) dan tumbuh mencapai $13,000,000 (177 Milyar Rupiah) di 2019.

Ingin Terus Tumbuh Sehat

Ingin Terus Tumbuh Sehat

Pertumbuhan Morning Brew selama 2018-2019 terbilang sangat signifikan. Namun, Lieberman dan Reif mengatakan bahwa mereka tidak ingin tumbuh melebihi dari produk utama mereka.

Morning Brew kini sedang berusaha melakukan peanekaragaman pendapatan dengan merilis podcast Business Casual yang sudah mendapatkan 1 juta download dan newsletter di segmen lain seperti Emerging Tech Brew (teknologi), Retail Brew (retail), The Turnout (pemilihan umum Amerika Serikat).

Reif dan Lieberman akan fokus menggunakan keuntungan dari Morning Brew untuk terus tumbuh secara sehat sebelum membuka diri pada investor dari luar perusahaan.

Di tahun 2020, Morning Brew berencana akan merilis newsletter pada beberapa segmen baru serta podcast baru.

Tidak banyak startup yang bisa profit sejak awal dan tidak ingin mengalami hyper-growth (pertumbuhan super cepat). Tapi, Morning Brew sadar akan potensi utama mereka sejak awal dan memilih untuk tumbuh secara organik sambil terus mendapatkan keuntungan.

Share on

Ari Kurniawan
WRITTEN BY
Ari Kurniawan
Blogger