This page looks best with JavaScript enabled

VG Lore : Lyra

 ·   ·  โ˜• 7 min read  ·  โœ๏ธ Ari Kurniawan

*Untuk lebih mengerti lore Lyra, sangat disarankan membaca kisah mereka dari sudut pandang hero lain seperti Reim, Samuel**ย & **Lance.**

Lyra Lore, Chapter 1 :ย The Consequence And The Inception

Lyra Lore

Setelah kehancuran Trostan, Lyra dan Reim harus kembali kerumah…

Dipantai dari Trostan yang berlumpur, Lyra menyaksikan seorang Grangor mencari jalan melewati kota hantu itu, melewati sumur berkekuatan yang bercahaya biru dan naik mengikuti gletser. Berhari-hari mereka telah memilah-milah diantara reruntuhan yang berasap, menyeka abu dari tiap wajah orang sudah mati, tapi Samuel tidak ditemukan.

Penyihir es tua berjalan disampingnya, dengan tongkatnya, alis matanya menaik. “Tidak akan ada yang menyalahkanmu jika kau tidak kembali.”

Lyra tanpa ragu. “Aku adalah seorang Gythia.”

“Uh huh.” Reim melakukan gestur seperti tidak peduli.

“Ini adalah saatnya,” dia berkata.

Reim merentangkan tangannya; dari telapak tangannya, terbentuk sebuah bola es. Napas Lyra membeku ditenggorokannya. Lengannya merinding. Embun muncul dari jari-jari Reim; Es-es tajam terbentuk dijenggotnya; es melapisi tongkatnya dan dia menghentakkannya kelumpur. Tanah bergetar, bongkahan-bongkahan es besar yang lancip muncul ditengah Trostan, membelah langit, menutupi sumur itu.

“Giliranmu,” ujar Reim. “Hancurkan.”

Buku mantranya berkedip dan terbuka diantara tangannya; mantra kuno diucapkan dari mulutnya. Pembatas sihir kota mulai memudar dilangit, bergolak diudara dan kembali kebukunya. Telah dijaga selama berabad-abad, awan yang mencair bergerak turun, membanjiri kota yang telah hancur itu, menciptakan longsoran salju yang menyelimuti reruntuhan kota.

Kedua penyihir itu menaiki sebuah kapal. Lyra memeluk buku mantranya dan menyaksikan hasil kerja keras seumur hidupnya semakin menjauh. Awalnya kota beku itu merupakan tempat para penambang, pencuri dan gerombolan orang-orang yang ingin cepat kaya, tapi dalam perlindungan Lyra, kota itu menjadi berwarna. Para pendatang dari Gythia memenuhinya dengan bangunan, patung, tanaman, jual beli yang sah dan hukum yang sah juga. Menara sihir dari Trostan, mirip seperti ditempat asalnya, dindingnya yang melingkar dipenuhi dengan buku dan seni, sekarang hanya abu.
Dua puluh tahun dan beberapa tahun sebelumnya, pemandangan dari haluan kapal penghancur es, dengan lambung kapal yang membentur apa yang akan segera menjadi pelabuhan dari Trostan, dulunya putih dan lebih banyak warna putih, terjepit diantara langit dan laut yang berwarna abu-abu.

Wanita takdir itu terlihat sedih dibawah kerudung putihnya ketika dia melepaskan merpati-merpatinya dari sangkar emasnya tanpa upacara apapun. Ketika mereka terbang ketiang kapal, dia menganggap itu adalah sebuah pertanda baik. Para penjelajah dan penambang ini telah menempati area dari Kall Peaks yang membeku, dimana hanya Grangor yang telah berkelana kesini sebelumnya, sebelum kristal ditemukan. Jauh diatas, pada tepi pegunungan, para kucing buas itu melihat. Jika Lyra berhasil, lebih banyak kapal akan mengikutinya dari Gythia dengan para calon penduduk Trostan: arsitek, pedagang, artis, petani dengan benih-benih dan bekal hidup mereka, lebih banyak penambang dan peralatan dan pembangun kapal, guru dan fisikawan untuk anak-anak mereka.

Lyra mengenakan jubah bulu berwarna merah. Musim semi di Kall berarti penuh dengan salju, yang memenuhi laut dimana pidatonya tentang kemegahan dari kerajaan dan harapan untuk masa depan yang makmur ditinggalkan.
Belum pernah sebelumnya banyak mata yang menatapnya. Belum pernah sebelumnya begitu banyak tanggung jawab dipundakknya. Belum pernah sebelumnya dia menginginkan kegagalan.

“Jika ada satu hari untuk itu, biarlah itu menjadi hari ini,” gumamnya.

“Apa?” tanya Grangor pemandunya. Meskipun tertutupi dengan bulu, dia terlihat sama; dengan senyumnya yang memperlihatkan gigi-giginya.

“Aku sudah mempersiapkan pidato,” Dia berteriak balik. “Aku pikir mereka akan mendengarnya!”

“Lakukan saja!” Dia mengepalkan kedua tangannya yang bercakar.

Lyra memfokuskan pandangannya pada gletser yang bercahaya. Dia mengambil napas dalam-dalam, napas dingin kedalam paru-parunya dan menahannya, menghangatkannya, sebelum melepaskannya menjadi kabut. “Datanglah, Ambrosius,” dia berbisik, dan buku mantranya terbang dari jubahnya, melayang diatas telapak tangannya. Mata Grangor itu berputar keatas ketika dia membisikkan mantra yang ada dibukunya.

Napas dalam yang dingin lainnya dan salju yang menerpanya, dan kemudian jubah bulu merahnya menjadi hangat dan kering, lalu rambutnya, dan dia mengumpulkan kehangatan diantara tangannya dan membuat keinginan, seperti biasanya, yaitu dia ingin mampu menggenggamnya selamanya.

Kedua tangannya membentang dan cahaya muncul dari ujung jarinya. Penghalang yang melengkung terbentuk pada pembatas yang akan segera menjadi Trostan, dan salju jatuh disekitar pelindung ini seperti air yang mengalir diatas sebuah bola kaca. Awan-awan melebur didalam benteng hangatnya, penduduk menjadi gembira melihat matahari, dan gletser bercahaya yang dialiri Halcyon mulai retak dan mengalir menuju apa yang sudah diketahui, generasi selanjutnya, sungai kembaran dari Trostan.

Lyra Lore, Chapter 2 : The First Mistake

[Lyra Lore 2

Pengganti Lyra tiba di Trostan…

Luar biasa, pikir Lyra, betapa cepatnya para pendatang telah berbaur dengan Grangor, memadukan bahasa mereka dan bahasa Grangor yang kasar untuk membuat bahasa Trostan. Lyra tidak pernah pantas untuk berbicara dengan bahasa itu, tapi memahami bahasa Trostan adalah hal yang mutlak dikota pelabuhan dengan beraneka ragam budaya itu.

Baru lima tahun yang lalu, pembatas miliknya telah melelehkan glester Halcyon dan pemukiman itu telah berkembang, kota yang dihormati. Penginapan disisi dermaga dipenuhi pelancong yang mencari keberuntungan kristal mereka, menambahkan istilah-istilah dari tempat asal mereka kedalam bahasa yang sedang berkembang. Didermaga, para pelaut memanggil satu sama lain dengan bahasa Trostan yang fasih ketika mereka menurunkan peti-peti dari kapal mereka.

Lyra, diantar oleh Grangor pemandunya, matanya berseri ketika mereka berlari disekitar dermaga. Para prajurit berjubah emas muncul dengan membawa banyak peti dan keranjang. Dengan tidak sabar tapi masih bersikap formal dia mendekati prajurit dengan pelindung kepala berwarna silver yang memegang tangan seorang anak laki-laki kecil.

“Aku diberitahu kalau penggantiku adalah berasal dari para penyihir, tapi aku rasa Trostan bisa dijaga dengan baik oleh pasukan yang beroperasi sekarang,” ujarnya. “Anda dan putra anda sangat disambut disini.”

“Anda keliru, Nyonya Lyra. Penggantimu memang penyihir.” Prajurit itu menuntun anak laki-laki itu. “Archmage Lora mengutusku untuk mengantarkan dia kepada anda dan mengingat pesannya.”

Hati Lyra tenggelam bersamaan dengan matanya saat dia memandang anak itu, gemerlap dalam jubah bulu hitam yang terlalu besar untuknya, matanya yang ketakutan melebar dengan harapan. “Sampaikan pesannya, tuan.”

“Salam, Battlemage Lyra,” dia berkata. “Serikat Sihir dari Gythia dengan senang hati mempersembahkan Samuel keturunan penyihir, putra dari Archmage Lora sang keturunan penyihir dan Scholar Titus sang keturunan penyihir, untuk diasuh dan dididik dibawah perlindungan anda sampai dia dewasa dan siap untuk menggantikan anda dipemerintahan Trostan.”

“Apa ini?” tanya Grangor.

“Politik,” jawab Lyra. “Atau lelucon yang keji.”

Grangor itu membungkuk. “Selamat datang, Sam. Berapa umurmu?”

Anak laki-laki itu menunjukkan empat jari.

“Berumur empat musim dingin! Kau anak yang tampan.” dia menggosok rambutnya.

“Lora telah membuangku ke Trostan untuk empat belas tahun mendatang.” Lyra tertawa. “Lora masih takut kepadaku.”

“Kami akan menyiapkan kamarmu dimenara sihir, Sam,” ucap Grangor. Tanpa perayaan apapun dia menggendong anak itu dan para prajurit mengikuti mereka kekota, meninggalkan Lyra yang memandangi laut hangat dari ingatannya.
Di Gythia, hembusan angin dingin menerpa tirai kamar menara sihir Lyra. Dulu, Trostan merupakan taktik, harapan untuk pemulihan pasca perang bagi Gythia. Sebelum dia merasakan badai es dari Trostan, Lyra berpikir hembusan angin ini sudah tidak tertahankan; dia berguling ditempat tidurnya, meletakkan wajahnya kedada Titus untuk menahannya.
“Peluk aku,” dia bergumam. “Aku kedinginan.” Lak-laki itu mengayunkan kakinya diatas pingganggnya, membuat dia tertawa geli. “Tidak berguna. Sekarang aku kepanasan dengan posisi seperti ini. Lepaskan aku dan aku akan membuat teh.”

Dia memeluknya, sembari membuka sebuah gulungan kertas. “Jika kau ingin lolos, kau harus mengubahku menjadi kodok atau yang lainnya, Nona Battlemage.”

“Tidak perlu,” dia berujar, memberikan ciuman pagi hari. “Aku mempercayaimu.”

“Itu adalah kesalahan pertamamu. Ooh,” dia berkata, “Ini dari sang Archmage. Kau orang penting sekarang.”

“Kecemburuanmu sangat tidak menarik.” Lyra menggigil dan tersenyum, mengirup aroma dari keringat dan kayu cendana darinya. “Apa itu?”

“Sebuah pesan dan sarapan untukmu.”

“Jika ini untukku, bukankah kau pikir aku harus membukanya?”

Dia menjauhkan dari jangkauannya. “Battlemage Lyra dari Serikat Sihir, blah blah … dengan segera akan ditempatkan di Kall Peaks untuk membangun koloni dari Trostan …”

“Mereka mengirim kita ke Kalls?” Lyra menjangkau gulungan itu, tapi Titus dengan cepat mengambil kembali.

“Permohonanmu untuk menikah dengan Scholar Titus sang keturunan penyihir sampai sekarang ditolak karena rencana pernikahan dengan …”

Lyra dengan cepat merebut gulungan itu dari tangannya. “… dengan Lora sang keturunan sihir,” dia bergumam.

“Kau bukan keturunan penyihir.” Titus mendekat padanya. “Kau sudah tahu mereka mungkin akan merencanakan pernikahanku. Serikat ingin …”

“… anak keturunan penyihir,” Lyra berujar. “Tapi aku telah melewati semua tes. Aku mengisi semua formulir. Aku pikir ….” Dia memegang telinganya, menempelkan dahi mereka. “Kita tidak perlu mematuhinya. Kita bisa menjadi petani diprovinsi. Kita bisa mengilang di Taizen Gate.”

“Kau telah bekerja keras sejak kecil untuk mendapatkan posisi di serikat. Aku tidak akan membiarkanmu menyerahkan segalanya yang telah kau capai dengan susah payah,” ujarnya, mengubur wajahnya dirambut Lyra.

“Kita adalah Gythia yang terkemuka.”

Lyra membasahi leher Titus dengan air matanya, jari jemarinya mencakar pundaknya.

Original story by Super Evil Mega Corp & Original translated by Uul (Group Facebook Vainglory Indonesia)

Share on

Ari Kurniawan
Ari Kurniawan