This page looks best with JavaScript enabled

Catatan Work From Home

 ·  ☕ 3 min read  ·  ✍️ Ari Kurniawan

Sejak berkenalan dengan internet marketing dan make money online saat SMP, saya selalu punya mimpi untuk bisa bekerja dari rumah kalau sudah dewasa.

Dulu, istilah kerennya adalah kerja SAH dan WAH. SAH = Stay at Home / WAH = Work at Home.

Tahun ini (2020) hampir 10 tahun kemudian, semesta secara ajaib memberikan saya “Free Trial” pada bagaimana rasanya bekerja dari rumah karena adanya wabah COVID-19.

WFH Gak Asik

Dua minggu pertama sih rasanya enak banget: Bisa bangun lebih siang, bekerja dengan pakaian dan lingkungan kerja paling nyaman, bahkan bisa curi-curi waktu main PS4 kalau kerjaan lagi slow.

Tapi, setelah sebulan… Rasanya ternyata tidak semenyenangkan itu. Salah satu faktornya mungkin juga karena ada COVID-19 yang bikin tidak bisa keluar rumah tanpa kepentingan dan harus phyiscal distancing, jadi saya tidak bisa berganti suasana kerja, misalnya kerja dari kafe gitu.

Tulisan ini adalah catatan yang saya buat selama masa WFH COVID-19. Diupdate kalau ada hal baru yang akan ditambahkan

Tiap Hari Rasanya Sama

Hari-hari pertama WFH, saya selalu diingatkan dua hal ini:

  1. Pisahkan antara “Kerja” dan “Rumah” agar mental tidak bingung.
  2. Jangan Bekerja dari atas kasur.

Oke, dua minggu pertama, saya berusaha menerapkan keduanya dengan tetap mandi pagi, sarapan dan ‘berangkat’ kerja alias balik lagi ke kamar. Tapi, setelah sebulan… Rasanya makin malas.

Kadang… Pagi cuma cuci muka dan gosok gigi saja, bahkan sarapan juga sering malas dan akhirnya dijadikan satu dengan makan siang saja.

Tiap hari rasanya sama, antara weekdays dan weekend tidak ada bedanya. Bahkan belakangan mulai tidak ingat tanggal dan hari kalau bukan karena ada suatu hal penting atau karena melihat ponsel.

Apalagi COVID-19 bikin tidak bisa kemana-mana, jadilah kalau weekdays menatap layar laptop untuk bekerja dan weekend menatap layar yang sama buat marathon nonton tv series/anime.

Rasanya Lebih Capek

Ini terasa di minggu-minggu awal WFH.‌ Bekerja rasanya lebih capek dan secara tidak sadar juga sering bekerja lebih lama… Padahal tidak ada deadline yang benar-benar mepet.

Saya membaca banyak diskusi soal ini dan ternyata ‘capek’ ini bukan karena fisik tapi secara mental. Mental rasanya lebih lelah saat WFH‌ karena banyak kemungkinan:

  • Lingkungan kerja yang tidak mendukung‌ (banyak gangguan)
  • Masa adaptasi
  • Stress tambahan karena wabah COVID-19

Jadi, WFH‌ yang harusnya bisa lebih hemat mental energy karena enggak harus berurusan sama traffic, malah jadi beban banget.

Shiny Object Syndrome yang Bikin Susah Fokus

Shiny Object Syndrome biasanya digunakan untuk mendefinisikan para pebisnis yang belum menyelesaikan satu bisnis tapi sudah tertarik untuk memulai yang lain.

Pada kasus saya, skalanya jauh lebih… kecil. Saya mudah sekali teralihkan perhatiannya. Contoh gampangnya adalah tulisan ini…

Saya sudah berencana menulis tentang ini sejak minggu pertama mulai WFH, tapi baru terealisasikan sebulan kemudian. Dan saat menulis tulisan ini pun, saya sangat berusaha meminimalkan gangguan agar bisa fokus menulis dan menyelesaikannya.

Bisa saja sih sebenarnya menginstal aplikasi kayak Focus biar bisa lebih fokus. Tapi, kalau tidak dimulai dari kemauan diri sendiri, sepertinya akan lebih sulit untuk bisa fokus.

Jarum Timbangan Makin Ke Kanan

Ah udahlah, gak usah dibahas.

Share on

Ari Kurniawan
WRITTEN BY
Ari Kurniawan
Blogger